Showing posts with label Keluarga. Show all posts
Showing posts with label Keluarga. Show all posts

Thursday, February 11, 2010

I love you, Dad...

Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya…..
Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya.
Lalu bagaimana dengan Papa?
Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari,
tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu?
Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng,
tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?

Tuesday, December 22, 2009

Selamat Hari Ibu


Hari Ibu mengingatkan kita pada sebuah bangunan yang berkaitan erat dengan peringatan Hari Ibu ini, namun sering kita lupakan.
Mungkin tidak banyak yang tau kalo ternyata Jogja punya peranan yang amat penting atas tercetusnya tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu.
Nah, di Jogja ada sebuah bangunan yang menjadi monumen untuk mengingat peristiwa sejarah lahirnya Hari Ibu. Bangunan ini mungkin banyak yang gak menyangka, karena seringnya bangunan ini digunakan untuk acara resepsi pernikahan dan pameran, kalo punya kisah sejarah tersendiri.
Bangunan ini adalah gedung Mandala Bhakti Wanitatama!
Tau ndak kenapa tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai Hari Ibu?
Ternyata Hari Ibu ini ada sejarahnya.

Friday, March 27, 2009

Masa Laluku

Whew, setelah sekian lama nongol akhirnya it's time to introduce myself.

Me, myself, named Solikhin (Sebenarnya sih harusnya Sholihin, tapi gak papa lah, yang penting maksudnya begitu... hehehe) Nama itu merupakan pemberian dari kedua orang tuaku yang sangat aku cintai. Mereka memberiku nama seperti itu dengan harapan bahwa aku kelak menjadi bagian dari orang-orang yang sholih. Aamiin. Ibu, bapak, terima kasih atas doanya yah... I love you... Muah...

I was born on xx November 198x in Wlahar Wetan, a small village in Banyumas - Central Java. Yeah, I'm just an ordinary man just like the most people. Background keluargaku emang dari kalangan ELIT alias Ekonomi suLIt. Hehehe... My parents are farmer. Tapi, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Yang Maha Hidup atas segala rezeki yang telah Allah berikan kepadaku dan juga kepada keluargaku.

Sekolah pertamaku di SDN I Wlahar Wetan (maklum... TK jauh, yah sekitar 4 kilo dari rumah... gak ada yang anter jemput... ya udah masuk SD aja langsung. He...) Sekarang sekolahku sudah di-merger, gara-gara saingan sekolahku gak laku... SD di desaku jumlahnya tiga. SD 1, 2, dan 3. Letaknya satu komplek karena memang desaku cuma ada 17 RT aja.Aku masuk tahun 1989. Harusnya tahun 1988 bisa masuk, tapi gara-gara perawakanku yang terlalu kecil untuk bisa masuk ke SD. Akhirnya tahun 1995 aku lulus SD dengan predikat cumlaude (kuliah kalee...hehehehe....). Alhamdulillah aku dapet nilai yang sangat memuaskan. Kepala Desa (sekarang udah almarhum) malah pernah menawari sekolah gratis di SMP swasta yang notabene tidak terkenal dan mutunya diragukan. Aku langsung menolak... (gaya lu... padahal kasihan orang tua tuh...) Gengsi donk, masak sekolah di situ. Lha wong temen yang nilainya lebih kecil dariku juga daftar di SMP Favorit koq. Napa aku harus di swasta. hehehe.... Gak ding, jadi gini, kalo ngelanjutin di situ, temannya dikit. Kan temen-temenku pinter2, jadi banyak di SMP Fav. hehehe.... Nah, biar bisa ada persaingan yang ketat kan.... Hehehehe....

Oya, SMP ku adalah SMPN I Banyumas. Letaknya di jalan Alun-alun Banyumas. Berbatasan dengan Kantor Kecamatan Banyumas, Masjid Agung Banyumas, Lapas, radio Sendangmas, dan Museum Wayang.
Ternyata benar, di SMP, saingannya buwanyak. Peringkatku turun naik tuh... He.... Aku jadi gak terkenal lagi di SMP (walah..... emangnya di SD dulu terkenal??). Aku gak pernah dapet ranking satu lagi.. Hiks.... Prestasi tertinggiku dapet ranking 4 paralel dari 8 kelas. Alhamdulillah.... Di SMP aku cukup 3 tahun saja. Masuk tahun 1995 dan lulus tahun 1998. Alhamdulillah nilaiku cukup memuaskan. Secara total lebih banyak dari nilai SD (ya, kan ada tambahan satu mata pelajaran - English, tapi secara average nilaiku meluncur jauh ke bawah...





Saturday, March 21, 2009

KOMUNIKASI DUA ARAH

Komunikasi adalah sebuah hal yang penuh makna. Tentunya bila komunikasi itu mampu mengungkap secara optimal segala curahan hati, pokok pemikiran, dan ungkapan kasih atau benci, dari pihak-pihak yang saling berkomunikasi.

Lebih-lebih komunikasi yang terjadi antara ibu dan anak. Keduanya adalah pihak yang sudah terikat cinta kasih secara fitrah. Cinta kasih itu bahkan menjadi ‘sejati’, saat sudah dibaluri nilai-nilai Islami. Target cinta kasih itu menjadi sosok yang jelas, yakni menggapai keridhaan Allah.

Masalah adalah masing-masing pihak kerap kalil berbicara dengan bahasa yang unik, sesuai dengan wawasan dan perkembangan intelektualitasnya. Terkadang, antara ibu dan anak mengomunikasikan cinta kasih dengan cara yang berbeda. Masing-masing juga punya cara spesifik untuk membuat lelucon, canda, atau basa-basi, yang seringkali dipahami berbeda oleh pihak lain.

Saat anak masih kecill, mungkin pihak orang tua yang lebih banyak mengalah, terutama ketika seorang anak merasa ‘dicuekin’, akibat permintaannya sulit ditangkap oleh sang ibu. Sang ibu yang harus bekerja keras memeras otak untuk memahami bahasa si anak. Saat anak sudah beranjak dewasa, di mana tingkat kepekaannya meningkat, daya nalarnya juga bertambah kuat, sementara tingkat kestabilan emosinya masih kurang, pola berpikir dan wawasannya mulai membentuk, terjadilah egoisme yang menyebabkan terganggunya komunikasi vertical antara kedua belah pihak.

Sang ibu memang sudah selayaknya bersabar, dan pada umumnya seorang ibu memang sudah dibekali peranti kesabaran yang luar biasa. Namun seringkali seorang anak masih merasa kurang. Segala bentuk keinginannya dan arah pikirannya selalu ingin ditampilkannya secara sempurna, dan dapat ditangkap dan dipahami secara sempurna pula. Lebih dari itu, ia tidak ingin realisasi pemikirannya mengalami hambatan, dikritik atau bahkan dihujat. Terutama, di saat ia membutuhkan ‘pengakuan’ terhadap keberadaan dirinya dalam keluarga.

Dalam hal ini, Islam sudah memberikan aturan etika dalam berkomunikasi dengan seorang ibu,

”…maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduaanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”(Al-Isra:23)

Saat menjelang dewasa seorang anak harus berusaha mulai belajar ‘mengalah’ terhadap ibunya, seperti halnya sang ibu yang dahulu pernah bermandi keringat, memeras otak dan berjumpalitan mengupayakan kesabaran dan tetap bersikap mengalah kepada kita, saat kita masih kecil.

Ada dua hal pokok yang harus diperhatikan dalam hal ini.

Pertama: Pelajari cara berkomunikasi yang baik dan benar, sesuai dengan kondisi pemahaman sang ibu. Tujuannya, agar seorang anak mampu mengucapkan kata-kata mulia, seperti yang dianjurkan dalam Al-Quran. Karena selain kestabilan emosi, kebagusan bahasa amat diperlukan dalam komunikasi yang baik. Hal itu juga perlu, bila kita mengacu pada apa yang diungkapkan oleh Ali bin Abi Thalib,

”Berbicaralah kepada orang sesuai dengan yang mereka ketahui/pahami. Apakah kalian ingin Allah dan Rasul-Nya didustakan?” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari I/59)

Kedua: Pelajari gaya dan model komunikasi yang biasa dilakukan ibu, agar tidak mudah terjebak pada ‘prasangka’ atau kesalahan komunikasi.

Untuk itulah perlu diperhatikan beberapa langkah praktis yang bias diambill, di antaranya:

Berusaha membuka dialog secara praktis

Artinya, jangan membiarkan munculnya suasana kaku ketika berhadapan dengan ibu hanya karena lama tidak berkomunikasi secara langsung atau karena ada beberapa persoalan prinsipil yang sempat merenggangkan hubungan dengannya, misalnya.

Menjadi pendengar yang baik

Sebagai seorang anak, dituntuk sebisa mungkin menjadi pendengar yang baik terhadap ucapan orang tua, jangan menunjukkan mimik muka mengejek atau merendahkan atau menyatakan ketidak setujuan secara kasar.

Menghargai perasaan

Saat Islam melarang seorang anak mengucapkan ‘ah’, sudah menunjukkan tekanan agar si anak menjaga perasaan orang tua, terutama ibu, agar tidak tersinggung oleh ungkapan yang seremeh apapun. Seringkali seorang ibu menjadi tidak mampu menyetujui usulan sang anak, hanya karena tersinggung oleh cara bicaranya yang kasar dan kurang beradab.

Jangan menyela

Seperti disebutkan sebelumnya, seorang anak tidak boleh mendahului perbuatan orang tua, tanpa seizinnya, termasuk berbicara. Menyela, yang kadang berakibat pada putusnya pembicaraan orang tua, adalah tindakan yang kurang beradab dan mengganggu kelancaran komunikasi timbal balik.

Jangan ngelantur

Dalam sebuah dialog, seringkali seorang anak tanpa sadar berbicara ngelantur, keluar dari subyek pembicaraan. Biasanya karena secara kebetulan bertemu dengan ‘hal-hal’ di luar materi dialog yang menarik perhatiannya. Itu sama sekali tidak layak terjadi dalam komunikasi dengan seorang ibu, sebagai figure yang seharusnya dihormati dan dimuliakan. Jangan membuatnya kebingungan, atau merasa kesal karena tidak bias menangkap maksud ucapan anaknya. “Saya yang terlalu bodoh atau anak saya yang tidak waras?” mungkin begitu pikiran seorang ibu bila anaknya berbicara ngelantur.

Hindari pertengkara

Jangan merusak dialog yang sejuk menjadi pertengkaran. Hal ini bias dipicu karena kesalahpahaman yang terlalu dibesar-besarkan, nada bicara yang tidak terkontrol, atau ucapan-ucapan yang kurang layak. Bila ibu yang terlebih dahulu emosional, berhentilah berbicara sejenak, meminta maaf (yang kedua ini biasanya agak sulit) segera atau beberapa saat kemudian, baru memulai pembicaraan kembali.

Jangan memaksakan pendapat

Bila dialog tersebut tidak mencapai kesepakatan, jangan terburu-buru memaksakan pendapat. Ulangi saja dialog itu di kesempatan lain, sebisa mungkin dengan cara yang berbeda. Bila komunikasi lisan dirasa kurang optimal, boleh dicoba gunakan komunikasi melalui surat dan sejenisnya. Mungkin, dengan tidak adanya kontak verbal secara langsung, gejolak emosi bisa ditekan seminimal mungkin.

Dengan beberapa langkah tersebut diharapkan komunikasi yang sudah berjalan baik akan terpelihara dengan baik. Pun komunikasi yang mungkin sempat terganggu bisa dipulihkan lagi dengan baik. Teknik ini tidak terbatas komunikasi dengan ibu, bisa dicoba dengan anggota keluarga yang lain, atau kerabat bahkan teman dan relasi.

Sumber: Majalah Fatawa Vol. V/No. 03 Maret 2009. Hal 26-28.

Monday, March 9, 2009

BASA BASI… ITU PERLU!

“Buih, bikin makanan kok asin begini, Mi!” Kata Fulan begitu mencicipi masakan isterinya. Wajah isterinya pun jadi merah padam. Malu, tapi juga tak suka suaminya berkomentar sekasar itu.

Sementara itu, seorang suami lain mengomentari tindakan isterinya yang dinilai salah dengan berkata, “Dasar kamu itu nggak pinter. Menyelesaikan hal begitu saja nggak becus!” Sang isteri pun jadi sakit hati mendengar kata-kata suaminya. Yang ia lakukan kemudian adalah masuk kamar dan memeluk bantal, sementara air matanya tak henti brecucuran.

Sebagian laki-laki, memang seringkali tak menyadari, bila suatu komentar atau ucapan yang tanpa basa basi itu bisa menyakiti hati isterinya. Padahal, dalam pergaulan suami isteri, dituntut adanya hubungan komunikasi yang harmonis, dan hal itu hanya akan terwujud bila masing-masing bisa mengatur kata-katanya agar tidak menyakitkan hati pasangannya.

Tidak bisakah seorang suami lebih sopan dalam mengkritik masakan isterinya dengan tersenyum dan mengatakan, ”Wah, makanan ini sebenarnya enak kok Mi…, cuma, mungkin kebanyakan garam…” Isteri yang dikomentari seperti itu mungkin masih bisa tersenyum, dan lain kali ia akan lebih berhati-hati dalam member garam pada masakannya.
Demikian pula ketika menilai tindakan isteri yang salah di mata suami, perlu basa basi, agar isteri bias menyadari kesalahannya tanpa merasa tersakiti. Misalnya dengan berkata, ”Begini Mi, langkah yang Ummi ambil itu mungkin sudah benar, tap kurang tepat. Alangkah baiknya jika untuk menyelesaikan hal itu Ummi bersikap …… Insya Allah nanti hasilnya akan lebih baik.”

Bukankah kata-kata seperti itu terdengar begitu menyenangkan dan sejuk di hati?
Begitu pula yang diajarkan oleh sahabat Nabi SAW, Umar bin Khaththab RA. Ketika beliau menjadi khalifah, ada seorang wanita yang dia panggil untuk menghadapnya. Sebelumnya, wanita itu ditanya oleh suaminya, ”Apakah kamu mencintaiku?” Ia menjawab, ”Tidak.” Maka Umar pun memanggil wanita itu agar menghadap, lalu beliau tanyakan kepadanyaa, ”Mengapa kamu katakan seperti itu?” Wanita itu menjawab, ”Ia memintaku bersumpah, dan aku tidak mau berbohong.”

Maka Umar pun berkata, ”Baiklah. Hendaklah salah seorang di antara kalian bias berbohong dan berbasa basi. Tidak setiap rumah tangga itu dibangun atas dasar pondasi cinta, akan tetapi bisa jadi ia tegak karena pergaulan atas dasar keturunan dan Islam.”
Yang dimaksudkan oleh Umar adalah, hendaklah seorang isteri bisa berbasa-basi kepada suaminya dalam berkata-kata, dan hendaklah ia mengatakan, ”Aku mencintaimu.” Sekalipun sebenarnya ia tidak mencintainya. Tapi, ini adalah sebagian dari bentuk kepantasan berbasa-basi saja. Boleh jadi pikiran itu akan berubah di kemudian hari.

Demikian halnya dengan seorang suami. Hendaklah ia mengatakan, ”Aku mencintaimu,” sekalipun sebenarnya ketika itu ia tidak mencintainya. Mudah-mudahan Allah akan menjadikan cinta sesudah itu. Seringkali perilaku seorang wanita iitu berubah menjadi baik dan kemudian bertambahlah kecintaan di antara keduanya. Maha Suci Allah, Dzat yang berkuasa untuk membolak-balikkan hati.

Sesungguhnya, berbasa basi, atau berbohong dalam pembicaraan suami isteri yang ditujukan untuk kemaslahatan, adalah sesuatu yang diperbolehkan. Diriwayatkan dari Ummu Kultsum binti ‘Uqbah, bahwa ia berkata, ”Aku tidak pernah mendengar Rasulullah SAW memberikan keringanan mengenai sesuatu pun untuk berdusta, kecuali dalam tiga perkara. Yaitu seseorang berbohong dengan maksud mendamaikan (dua pihak yang berselisih), seseorang yang berbohong dalam perang, dan seorang suami yang berbicara (berbohong) kepada isterinya atau seorang isteri yang berkata bohong kepada suaminya” (Riwayat Muslim). Wallahu a’lam.

Sumber: Majalah Fatawa Vol V/No. 02/Shafar 1430 : Pebruari 2009. Hal 42-43.